Jika Tidak Berkepentingan, Jangan Sibukkan Diri Anda

Posted on 28/03/2011

0


Mencari informasi dan berita, selama ia berguna bagi seseorang, maka tidak jadi masalah asalkan didapat secara akurat dan terjamin validitasnya, tetapi terkadang kita sering menjumpai orang yang pekerjaannya hanya ingin tahu urusan orang lain dengan mengorek-ngorek informasi dan berita darinya, untuk kemudian menyebarkannya. Dia begitu antusias kesana kemari dan kasak-kusuk untuk mencari ‘menu makanan’-nya tersebut hanya sekedar memenuhi nafsu keinginantahuannya padahal bukan menjadi urusannya.

Islam sebagai agama yang menyeluruh, senantiasa menyoroti segala aspek kehidupan manusia dan menatanya dengan baik, untuk kemudian menciptakan interaksi yang serasi dan berkesinambungan antar sesama yang jauh dari hal-hal yang dapat meretakkan hubungannya.

Karena itulah, salah satu prinsip yang disodorkan oleh Islam adalah “tidak mengurusi urusan yang bukan menjadi urusannya.” Hal ini teruntai dalam sebuah hadits yang dianggap sebagai Jawani’ Al Kalim (ungkapan yang padat isi sekalipun ringkas).

Bagaimanakah sesungguhnya makna untaian tersebut? Berikut ulasan singkatnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata,”Rasulullahu Shallallahu ‘aliahi wasallam, bersabda: Di antara kebaikan (kelengkapan dan kesempurnaan) keislaman seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan hal yang bukan menjadi kepentingannya (baik urusan dien maupun dunia).”(HR At Turmudzi).

Dikeluarkan oleh Imam At Turmudzi (2317) dan Ibnu Majah (3976). Sedangkan Ibnu Ma’in, Ahmad, Al Bukhari dan Ad Daruquthny menguatkan bahwa hadis ini adalah Mursal.

Hadits ini dinilai Hasan oleh Imam An Nawawi dengan menyatakan bahwa para periwayatnya adalah orang-orang yang tsiqat. Ibnu ‘Abd Al Barr berkata,”periwatan hadits ini dengan sanad ini adalah riwayat yang terjamin dari Az Zuhry yang meriwayatkannya dari pada periwayat Tsiqat dan ini sesuai dengan penilaian Hasan oleh tuan Syaikh(Imam An Nawawi).” Sedangkan kebanyakkan para Imam, tidak menganggapnya terjamin dengan sanad ini tetapi riwayat yang terjamin adalah dari Az Zuhry dari ‘Aly Bin Husein dari Nabi Shallallhu ‘Aliahi Wassallam, secara Mursal. Demikian juga, Hadits ini diriwayatkan oleh para periwayat Tsiqat dari Az Zuhry, diantaranya Imam Malik di dalam kitabnya Al Muwaththa’, Yunus, Ma’mar, dan Ibrahim Bin Sa’d, hanya saja redaksinya berbunyi(artinya), ‘Termasuk keimanan seseorang adalah (sikapnya) meninggalkan apa yang bukan menjadi urusannya.’ Diantara Ulama yang menilai bahwa ia tidak shahih kecuali dari ‘Aly Bin Husain secara Mursal adalah Imam Ahmad, Yahya Bin Ma’in, Al Bukhari dan Ad Daruquththny.’ (Tuhfah al Ahwadziy Syarh Sunan At Turmudzi oleh Al Mubarakfury).

Urgensi Hadits

Abu Daud berkata,”Pokok-pokok As Sunnah di dalam setiap seni ada 4 hadits…” laul beliau menyebutkan salah satunya Hadits ini.

Ibnu Rajab Berkata,”Hadits ini merupakan pokok yang agung dari sekian pokok-pokok adab.”

Posted in: Kajian