Penyimpangan Aqidah dan Cara Penanggulangannya

Posted on 08/03/2011

0


Penyimpangan dari aqidah yang  benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena, aqidah yang benar merupakan pendorong utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar, seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan. Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat hewani (bahimi), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia meskipun mereka bergelimang dengan materi. Dengan materi, mereka terkadang justru sering terperosok pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah.  Karena, sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar, kecuali aqidah shahihah.

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh.”(QS. Al-Mukminun:51).

“Dan, Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami Berfirman): ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud! dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang shaleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan’.”(QS. Saba:10-11).

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan maddiyah (materi). Jika hal itu dilakukan  dengan menyeleweng  kepada aqidah batil, kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi tetapi tidak memiliki aqidah shahihah.

Sebab-sebab penyimpangan yang harus kita ketahui adalah sebagai berikut.

Kebodohan terhadap aqidah shahihah karena tiak mau mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Akibatnya,tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikkannya. Akibatnya, mereka meyakini yang hak sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang hak. Hal itu sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar ra:

“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.”

Fanatik kepada suatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekalipun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahi, sekalipun hal itu benar.

Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allahu Subhananhu Wata’ala:”Dan, apabila dikatakan kepada mereka:’Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab:'(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”(QS. Al Baqarah:170).

Taklid Buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Muktazilah, Jahmiyah, dan lainnya. Mereka bertaklid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam yang sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah yang lurus.

Berlebihan (ghuluw) dalam mencintai para wali dan orang-orang shaleh, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya atau terlalu mengagungkannya, sehingga menyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudaratan.

Lalai (ghaflah) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar dijagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam Kitab-Nya (ayat-ayat qur’aniyyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata. Hal ini sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan, seperti dalam surah Al-Qashash ayat 78, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”

Dan, sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong, seperti dalam surah Fushshilat ayat 50, “Ini adalah punyaku…”

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan berbagai keistimewaan alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia. Perhatikan firman Allah “padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”(QS. Ash-Shaffat:96).

Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut Islam). Padahal, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah bersabda, “Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka, kedua orang tua-nyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi.”(HR Al-Bukhari). Jadi, orang tua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik, berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata.

Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tidak berdaya dihadapan pasukan kekufuran yang persenjataannya lengkap.

Cara-cara Menanggulangi Penyimpangan

Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘aliahi Wasallam untuk mengambil aqidah shahihah, sebagaimana para shalafus shalih mengambil aqidah dari keduanya. Tidak Dapat memperbaiki akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok kedalamnya. Wallahu A’lam.

Sumber : dari kitab Tauhid 1 terbitan Yayasan Al Sofwa, terjemahan dari At Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-‘Aliy, Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan

Posted in: Kajian