Mahmood Ahmadinejad

Posted on 19/06/2010

1


Waktu ketua MPR Hidayat Nur Wahid berkunjung ke Iran, beliau tidak diterima di istana yang megah dengan karpet merah bak kunjungan seorang pejabat negara sahabat. Beliau hanya dijamu di ruang tamu sederhana, dengan hanya kursi kayu biasa tanpa meja, sehingga ketika disuguhi minuman limun dalam gelas, beliau bingung mau diletakkan dimana, akhirnya diletakkan di bawah kursinya (diambil dari cerita Hidayat Nur Wahid sendiri waktu ke Iran).

Sebagai penganut dan loyalis revolusi Iran, Ahmadinejad menjadi presiden yang mengikuti gaya asketis pendahulunya, Ayatollah Khomeini.
Dia menjadi orang yang mampu mengatasi ruangan dirinya sendiri yang dihimpit oleh benda-benda (materi), karena bagi dia, cita-cita luhur untuk merubah Iran adalah sesuatu yang teramat sangat penting, sesuatu yang amat memukau mereka sehingga mereka dengan rela, dengan ikhlas meninggalkan dunia materi, bahkan segala milik dan kekayaan terasa sangat mengganggunya mereka. “Revolusi bukanlah sebuah jamuan makan” (tulisan saya kemarin ‘Pemimpin Besar’)

Mantan walikota Teheran ini mengubah ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai mewah dan meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi dengan kursi kayu. Dalam beberapa kesempatan Ahmadinejad juga bergabung dengan petugas kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden.

Dibawah kepemimpinan Ahmadinejad, setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak jika masa tugas berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan kewibawaan . Caranya adalah agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan sepeser pun dari jabatannya. Ahmadijed juga mengumumkan bahwa kemewahan terbesar dirinya adalah mobil Peogeot 504 buatan tahun 1977 dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahun lalu yang terletak di salah satu daerah miskin di Teheran. Rekening tabungannya nol dan penghasilan yang diterima hanyalah gaji sebagai dosen sebesar kurang dari Rp 2.500.000,-. Presiden tetap tinggal di rumahnya. Satu-satunya rumah miliknya, salah satu presiden Negara terpenting di dunia secara strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya.

Ahmadinejad bahkan tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupakan haknya). Alasannya seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya. Hal lain yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap dengan nikmat makanan buatan isteri tersebut Di sisi lain ia menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden. Ahmadinejad juga mengalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presiden juga memilih terbang dengan pesawat biasa di kelas ekonomi. Ahmadinejad selalu melakukan rapat dengan para menteri kabinetnya untuk memantau semua aktivitas. Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin. Ia juga menghapus semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika jika mengunjungi Negara lain. Jikalau harus menginap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat tidur tetapi tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut. Juga menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah.

Waktu ditanya TV Fox, ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab, ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Pola-pola kelakuan asketis macam ini di Indonesia malah menjadi sesuatu yang aneh, nyleneh dan tidak biasa. Kemudian digabung dengan pemberitaan ‘barat’ yang cenderung berat sebelah, jadilah Mahmood Ahmadinejad seorang pemimpin yang ‘kontroversial’ . Sebuah pembelokan opini yang sangat berhasil dari media barat, dan anehnya kita membeo saja. Atau banyak pejabat negara kita yang malah menikmati pembelokan tersebut, sehingga perilaku sederhana, jujur, berkarakter macam Ahmadinejad menjadi sesuatu yang aneh, nyleneh, absurd, tidak biasa, dan kontroversial, sebaliknya bermewah2, membohongi publik, tidak punya karakter, pengecut, korupsi, menjadi sesuatu yang biasa, yang tidak aneh, yang baik.

Jadi kalau kita tidak mau negara kita tercinta, Indonesia ini menjadi negara gagal atau bahkan runtuh (menurut ramalan beberapa orang, termasuk MT. Zen), ya..berevolusilah. …..

[http://kombang.wordpress.com]

Posted in: Kajian