Tatkala Menteri Menghalangi Shalat Tepat Waktu

Posted on 16/06/2010

1


Ramadhan, 12 September 2008. Salah satu Masjid yang berada di kota Tarakan mendapat kunjungan langsung oleh salah seorang menteri kabinet SBY. Sebuah kehormatan yang memberi efek pada image, dan eksistensi disamping meroketnya pamor masjid tersebut dimata masyarakat Tarakan.

Sebuah gambaran yang mengindikasikan bahwa bangsa ini tidak hanya didominasi oleh pemimpin-pemimpin yang anti masjid, anti da’wah, peduli ibadahnya rendah, bobot akhlak bertopeng jabatan, koruptor, fact manipulator dan lain sebagainya. Terbukti dengan hadirnya salah seorang menteri kabinet SBY tersebut ditengah-tengah masyarakat kemarin malam bersama jama’ah selain shalat Isya yang dilanjutkan dengan shalat sunnat Taraweh juga mengusung misi da’wah yang bersih penuh ketulusan tanpa pamrih sedikitpun. Sebuah potret kehidupan sosok seorang pemimpin sejati yang bisa di jadikan cermin buat para pemimpin bangsa yang memiliki tujuan yang sama, membangun Indonesia menjadi negara yang disegani, berwibawa dan tidak ada ketergantungan pada hutang luar negeri tetapi negara merdeka yang mandiri.

Namun kedatangan menteri tersebut, dalam proses penyambutannya terkesan meng-kultus pengaruh yang dimiliki manusia. Memang benar Islam mengajarkan untuk menghormati tamu, tetapi dalam konteks kunjungan menteri ini, akan sangat menyimpang sekali bila pemahaman menghormati tamu dijadikan legalitas untuk berlebih-lebihan dalam proses penyambutannya. Sebab Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya agar tidak perlu berdiri ketika Rasulullah SAW datang yang ketika itu para sahabat sedang melakukan kajian agama.

Rasulullah SAW sangat memahami standart menghormati tamu. Kenapa justru umatnya yang notabene masih harus banyak belajar ini justru menyalahi ajaran beliau. Apakah keterangan Rasulullah SAW tidak begitu jelas sehingga harus diperjelas dengan sebuah pemahaman yang menurut penulis adalah sebuah tindakan pembodohan publik terhadap jama’ah dalam hal ini umat Islam.

Kedatangan menteri menghalangi pelaksanaan shalat tepat waktu adalah hal yang tidak bisa ditolerir, berdiri ketika Rasulullah SAW tiba disebuah majelis pengajian sangat tidak dianjurkan oleh beliau apatah lagi sampai menunda pelaksanaan shalat tepat waktu.

Adzan tidak mewakili shalat tepat waktu, sebab definisi adzan jauh berbeda dengan makna tegaknya shalat. Interpretasi yang sumbang bila sikap mengkultus sudah menjangkiti pemahaman umat Islam. Beberapa abad yang lalu Rasulullah SAW sudah menjelaskannya secara gamblang kepada umatnya bahwa jangan berlebih-lebihan terhadap beliau dengan pernyataan bahwa beliau adalah seperti layaknya manusia biasa, terlihat dari jumlah “ISTIGHFAR” yang beliau lafadzkan 100x/hari. apatah lagi hanya seorang menteri, apa kapasitasnya dibanding Rasulullah SAW sehingga shalat harus ditunda?

Dalam beribadah kepada Allah pangkat dan jabatan tidak akan menggambarkan status seseorang disisi Allah SWT, sebab hal itu tidak pernah direkomendasikan oleh AlQur’an. Dekat atau jauhnya seseorang hamba kepada Allah SWT itu tergantung dari besar kecilnya tingkat taqwa. Sudah selayaknya umat Islam menghormati seseorang hanya berorientasi ketaqwaan. Bila masih mengacu pada status dan pengarus jabatan seseorang, maka selamanya penegakkan syari’at Islam tidak akan sempurna.

Terhambatnya penegakkan syari’at Islam secara sempurna disebabkan oleh tingkat prioritas pemahaman antara perintah syari’at dan budaya bangsa Indonesia yang telah terlanjur tercemar oleh pemikiran dan paham penjajah. Sepenting apapun seseorang, setinggi apapun jabatannya seseorang, semulia apapun seseorang, Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkan kepada umat Islam untuk berdiri menyambut kedatangannya, apalagi sampai menunda pelaksanaan shalat.

Kita marah ketika syari’at Islam dilecehkan oleh bangsa dan negara yang notabene memusuhi Islam. Namun tanpa kita sadari justru kita sendiri telah menginjak-injak syari’at itu. Ketika pemahaman kita salah, jangan sekali-kali memaksa pemahaman tersebut kepada saudara-saudara yang lain. Disamping didorong oleh sikap arogan, pengaruh kita sebagai pemimpin memaksakan kehendak adalah sebuah tindakan yang kurang bijaksana.

Mari sama-sama kita bersihkan diri dari infeksi faham budaya barat yang sangat kontras perbedaannya dengan ajaran Islam yang notabene sarat dengan Akhlaqul Karimah. Menghormati orang lain secara proporsional agar syari’at Islam segera dapat ditegakkan menggantikan pola pandang kita, pola pikir kita, pola pemahaman kita. Tolak semua ajaran yang berseberangan dengan ajaran Islam, sebab pasti tidak akan pernah sempurna. Islam adalah penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya, Yahudi, Nashrani, Ahmadiyah, Lia Eden, dan ajaran-ajaran sesat lainnya.

[http://ppkiatarakan.wordpress.com]

Posted in: Kajian