Kebijakan yang Timpang

Posted on 15/06/2010

2


Pemimpin kelompok adalah individu yang memiliki kepribadian yang unggul, baik itu ditinjau dari kemampuan sebagai seorang konseptor, prediktor, maupun sebagai seorang decision maker.

Sebagai seorang konseptor, seorang pemimpin mampu merangkai berbagai aktivitas dalam wujud bagan pemahaman yang terstruktur, tidak terjadi tumpang tindih antara satu aktivitas dengan aktivitas lainnya sehingga pada proses implementasi tidak terjadi gesekan-gesekan wewenang para praktisi terkait yang memicu konflik internal. Dalam konteks pelaksanaan instruksi, anggota kelompok tidak menggunakan alokasi waktu, cost, tenaga dan pemikiran untuk memahami konsep aktivitas yang unclear sight. Pemimpin yang memiliki kemampuan prediktor dapat melihat manfaat yang dapat diperoleh oleh kelompok yang terselip dari peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Manakala orang lain menyikapi sebuah kasus dengan pemahaman yang kaku, di sisi lain, seorang pemimpin yang prediktor dengan fleksibel melihat peluang berupa solusi jenius menjawab akan penyelesaian kasus tersebut.

Disamping itu, pemimpin yang prediktor juga mampu membaca gejala-gejala lingkungan, perilaku anggota kelompok, dan dampak perilaku-perilaku tersebut terhadap lingkungan sehingga mampu mengatasi persoalan-persoalan unprediktif yang muncul dalam kelompok dengan kebijakan yang nilai akurasinya tinggi.

Seorang decision maker yang bijaksana punya korelasi yang kuat dengan kemampuan prediktor dan konseptor. Tekanan internal dan eksternal kelompok mempengaruhi kualitas sebuah keputusan yang dibuat oleh pemimpin selaku decision maker. Pemimpin yang mampu memprediksi tendensi-tendensi kepentingan pribadi pihak yang terusik oleh keputusan yang dibuat akan tetap komitmen pada statement yang tidak memihak. Orientasi keadilan menjadi prioritas utama ketika akan menerapkan sebuah kebijakan. Sebuah kebijakan yang unfear mengandung potensi konflik internal kelompok, kecemburuan sosial, dan menurunnya tingkat loyalitas anggota kelompok lainnya.

Kebijakan yang timpang terjadi karena pemimpin yang melakukannya tidak memiliki kemampuan layaknya seorang pemimpin yang ideal, seorang pemimpin yang tidak memiliki nilai bobot kepemimpinan, seorang pemimpin yang menggadai wibawanya dengan popularitas sebagai seorang pemimpin yang pada akhinya mendorongnya melakukan hal yang tidak patut oleh seorang pigure pemimpin yang mengusung kepentingan organisasi, instansi, departement atau kelompok yang dipimpinnya.

Posted in: Pikiran